Bagaimana penerapan kepengarangan dan kreativitas ketika sebuah karya seni dihasilkan oleh AI, bukan oleh seorang seniman manusia?

Bagaimana penerapan kepengarangan dan kreativitas ketika sebuah karya seni dihasilkan oleh AI, bukan oleh seorang seniman manusia?

Intensi dari pertanyaan ini adalah untuk menganalisis bagaimana konsep "kepengarangan" (authorship) dan "kreativitas" diterapkan atau bahkan ditantang ketika karya seni dihasilkan oleh AI, bukan diciptakan sepenuhnya oleh seorang seniman manusia. Jawaban yang kokoh memerlukan pendalaman dari aspek filosofi, estetika, hukum, dan dinamika sosial serta mengaitkannya dengan hasil riset mutakhir.


Kepengarangan: Siapa Pengarang Karya AI?

Dalam seni tradisional, pengarang adalah individu yang secara sadar, intensional, dan kreatif menghasilkan suatu karya. Namun, AI menggeser batas-batas ini. AI tidak memiliki kesadaran, motivasi, atau niat; ia hanya mengeksekusi proses yang sudah disetel entah oleh developer, peneliti, atau pengguna yang memberi instruksi (prompt)[1][2]. Karena itu, secara hukum dan filosofi, kepengarangan karya AI dapat dipandang dari beberapa sudut:

  1. Desainer atau Pengguna AI Sebagai Pengarang Mayoritas sistem hukum hanya mengakui manusia atau entitas hukum sebagai pengarang. Konsep "authorship transfer" menyarankan bahwa siapapun yang mengendalikan proses kreatif—apakah itu programmer, peneliti, kurator data, atau pengguna akhir yang memberikan prompt dan memilih hasil—dapat diartikulasikan sebagai pengarang hukum atas karya yang dihasilkan AI[3][4]. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip modern di mana kontrol terhadap proses kreatif, bukan sekadar eksekusi teknis, yang menentukan authorship.

  2. AI Sebagai Agen Kreatif, Bukan Pengarang Legal AI dapat dianggap sebagai 'agen' dalam produksi artistik, berperan dalam jaringan aktor ("actor network"), tetapi bukan pengarang dalam arti etika maupun hukum karena tidak memiliki intensi atau tanggung jawab moral[1][5]. Hasil riset juga menunjukkan bahwa AI tidak diakui sebagai pengarang resmi dalam publikasi ilmiah maupun dalam hukum hak cipta mayoritas negara, meski kehadirannya sebagai 'asisten kreatif' semakin diakui[4][6].

  3. Kolaborasi atau Ko-Keparangan Dalam praktik kontemporer, semakin sering terjadi "co-cre-ai-tion"—kolaborasi manusia dan AI, di mana batas kepengarangan kabur karena manusia mengonsep, mengarahkan, dan menyeleksi hasil akhir AI, sementara AI memperluas kemungkinan eksplorasi kreatif[7][8][9].


Kreativitas: Apakah AI Bisa Disebut Kreatif?

Kreativitas biasanya diasosiasikan dengan kemampuan mencipta sesuatu yang baru, bernilai, dan orisinal secara bermakna (seringkali melibatkan 'insight' subjektif atau pengalaman emosional). AI meniru kreativitas melalui rekombinasi data besar dan pola dari dataset latihannya; sebagian kritik menyebut proses ini “pseudo-kreativitas” karena tanpa pemahaman makna atau pengalaman subjektif[5][10].

Namun, ada argumen kuat yang mengatakan kreativitas tak lagi hak prerogatif manusia. AI generatif terbukti dapat “mengejutkan” manusia dengan hasil yang tidak dapat diprediksi bahkan oleh penciptanya atau penggunanya, sehingga berkontribusi pada ekosistem kreatif baru yang bersifat “distributif”[8][11]. Riset mutakhir, misalnya, menunjukkan bahwa AI bukan hanya memperbanyak volume karya, tetapi juga memperluas ruang eksplorasi ide (expanding idea space), meski rata-rata kebaruan visual cenderung menurun seiring adopsi masif AI—ini menandakan pentingnya peran manusia dalam kurasi, seleksi, dan integrasi gagasan[8][12].

Di bidang pendidikan dan desain, penggunaan AI terbukti meningkatkan performa dan kreativitas siswa serta profesional secara signifikan, menekankan AI sebagai alat augmentasi, bukan substitusi dari kreativitas manusia[13][14][15].


Persepsi, Nilai, dan Bias Publik

Walaupun secara formal AI belum diakui sebagai pengarang, persepsi masyarakat dan penikmat seni memberi bobot penting pada aspek keagenan (agency) dan pengalaman (experience) sang seniman. Riset psikologis menemukan bahwa informasi “karya ini dibuat oleh AI” cenderung menurunkan apresiasi penonton, terutama karena AI diasosiasikan dengan rendahnya agency dan pengalaman. Hal ini terkait bias implisit bahwa kreativitas adalah “keistimewaan manusia”[16][17]. Namun, ketika kualitas visual atau orisinalitasnya setara, penilaian estetika terhadap karya AI dan karya manusia bisa serupa, walaupun bias tidak langsung tetap muncul secara bawah sadar.


Hak Cipta dan Kebijakan

Dilema kepengarangan pada seni AI juga membawa konsekuensi hukum yang rumit. Mayoritas yurisdiksi (termasuk AS dan Uni Eropa) saat ini hanya mengakui karya ciptaan manusia sebagai subjek perlindungan hak cipta. Karya AI murni, tanpa intervensi kreatif berarti dari manusia, biasanya jatuh pada domain publik. Namun, jika terdapat originality pada instruksi (prompt) yang substansial, beberapa pakar berpendapat prompt itu sendiri bisa mendapat perlindungan, setidaknya secara parsial, layaknya karya kolase[4]. Inggris bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa “pencipta adalah pihak yang menyebabkan karya terjadi”, memberi ruang lebih besar bagi pengakuan terhadap kurator atau pengguna AI[3][4].


Implikasi Etis, Sosial, dan Budaya

AI mengaburkan batas antara alat, agen, dan kolaborator dalam seni. Ia membuka demokratisasi produksi seni, memperluas akses kreatif, dan menawarkan kemungkinan bagi siapa saja untuk menjadi “seniman”—tetapi juga menantang posisi artist tradisional dan menimbulkan kekhawatiran orisinalitas serta nilai keunikan karya seni[2][11][18]. Sebagian peneliti menekankan perlunya transparansi teknologi, literasi digital, dan kurasi etik agar kolaborasi manusia-AI menghasilkan ekosistem seni yang lebih sehat dan inklusif[1][7][19].


Simpulan

Penerapan kepengarangan dan kreativitas saat karya seni dihasilkan oleh AI adalah masalah multidimensional yang belum bisa dijawab dengan satu paradigma saja. Kepengarangan bergeser dari individu manusia ke jaringan kolaboratif antara manusia (programmer, pengguna, kurator) dan mesin (AI sebagai alat/agen)—dengan “kontrol proses kreatif” menjadi aspek kunci penetapan kepengarangan legal dan etis[3]. Kreativitas, sementara tetap mengakar pada aspek manusiawi seperti intensi dan pengalaman, semakin berbagi ruang dengan “kreativitas generatif” AI yang membuka potensi dan lanskap seni baru[5][10][11].

Di era AI, pengakuan akan pentingnya interaksi manusia–mesin serta narasi dan kurasi manusiawi atas hasil AI menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem seni yang relevan, inovatif, dan etis[7][8][19]. Oleh karenanya, baik definisi kepengarangan maupun kreativitas perlu terus diperluas dan dinegosiasikan sesuai dinamika perkembangan teknologi serta norma sosial yang muncul.

References
  1. [1]

    TAO, Feng. A new harmonisation of art and technology: Philosophic interpretations of artificial intelligence art. Critical Arts, 2022. https://doi.org/10.1080/02560046.2022.2112725.

  2. [2]

    DANIELE, A.; SONG, Yi-Zhe. AI + art = human. Proceedings of the 2019 AAAI/ACM Conference on AI, Ethics, and Society, 2019. https://doi.org/10.1145/3306618.3314233.

  3. [3]

    LU, Bingbin. A theory of ‘authorship transfer’ and its application to the context of artificial intelligence creations. Queen Mary Journal of Intellectual Property, 2021. https://doi.org/10.4337/qmjip.2021.01.01.

  4. [4]

    MAZZI, Francesca. Authorship in artificial intelligence‐generated works: Exploring originality in text prompts and artificial intelligence outputs through philosophical foundations of copyright and collage protection. The Journal of World Intellectual Property, 2024. https://doi.org/10.1111/jwip.12310.

  5. [5]

    LIU, Bai. Arguments for the rise of artificial intelligence art: Does AI art have creativity, motivation, self-awareness and emotion? Arte, Individuo y Sociedad, 2023. https://doi.org/10.5209/aris.83808.

  6. [6]

    SILVA, J. A. T. D.; TSIGARIS, Panagiotis. Human‐ and ai‐based authorship: Principles and ethics. Learned Publishing, 2023. https://doi.org/10.1002/leap.1547.

  7. [7]

    VINCHON, F., et al. Artificial intelligence & creativity: A manifesto for collaboration. The Journal of Creative Behavior, 2023. https://doi.org/10.1002/jocb.597.

  8. [8]

    ZHOU, Eric; LEE, Dokyun. Generative artificial intelligence, human creativity, and art. PNAS Nexus, 2024. https://doi.org/10.1093/pnasnexus/pgae052.

  9. [9]

    LAHTINEN, Jussi; OKSANEN, Atte. Urbanai art: Toward artist-driven AI art. Leonardo, 2024. https://doi.org/10.1162/leon_a_02615.

  10. [10]

    MAZZONE, Marian; ELGAMMAL, A. Art, creativity, and the potential of artificial intelligence. Arts, 2019. https://doi.org/10.3390/arts8010026.

  11. [11]

    GARCIA, M. The paradox of artificial creativity: Challenges and opportunities of generative AI artistry. Creativity Research Journal, 2024. https://doi.org/10.1080/10400419.2024.2354622.

  12. [12]

    SHEN, Yan; YU, Fangzheng. The influence of artificial intelligence on art design in the digital age. Science Program, 2021. https://doi.org/10.1155/2021/4838957.

  13. [13]

    LIU, Hui; GUO, Wei. Effectiveness of ai‐driven vocal art tools in enhancing student performance and creativity. European Journal of Education, 2025. https://doi.org/10.1111/ejed.70037.

  14. [14]

    SUN, Yan. Application of artificial intelligence in the cultivation of art design professionals. Int Journal of Emerg Technol Learn, 2021. https://doi.org/10.3991/ijet.v16i08.22131.

  15. [15]

    PAGANI, Margherita; WIND, Y. Unlocking marketing creativity using artificial intelligence. Journal of Interactive Marketing, 2024. https://doi.org/10.1177/10949968241265855.

  16. [16]

    ZHOU, Yizhen; KAWABATA, Hideaki. Eyes can tell: Assessment of implicit attitudes toward AI art. i-Perception, 2023. https://doi.org/10.1177/20416695231209846.

  17. [17]

    MESSINGSCHLAGER, Tanja V.; APPEL, Markus. Mind ascribed to AI and the appreciation of AI-generated art. New Media & Society, 2023. https://doi.org/10.1177/14614448231200248.

  18. [18]

    CHATTERJEE, A. Art in an age of artificial intelligence. Frontiers in Psychology, 2022. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1024449.

  19. [19]

    EPSTEIN, Ziv, et al. Art and the science of generative AI: A deeper dive [preprint]. arXiv, 2023. arXiv:2306.04141. https://doi.org/10.1126/science.adh4451.

tlooto can make mistakes. Check important information against the original sources.