Pembelajaran akuntansi di perguruan tinggi dikenal sebagai tantangan yang berat bagi banyak mahasiswa karena materi yang menuntut logika, analisis, dan ketelitian yang tinggi. Selain kompetensi teknis, faktor psikologis seperti rasa percaya diri, ketahanan menghadapi tekanan, serta kemampuan mengelola stres berperan penting dalam menentukan keberhasilan mahasiswa memahami akuntansi. Studi terbaru menegaskan peran modal psikologis—optimisme, hope, resiliensi, serta efikasi diri—yang tak hanya berpengaruh pada pembelajaran, tetapi juga kemampuan mahasiswa mentransfer pengetahuan ketika nanti memasuki dunia kerja[1]. Oleh karena itu, pembahasan aspek psikologis menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan akuntansi.
Motivasi belajar, baik intrinsik maupun ekstrinsik, juga menjadi faktor kunci yang mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti proses perkuliahan dan menghadapi tantangan akademik dengan lebih konsisten. Lingkungan belajar yang kaya tugas, memberikan otonomi, dan umpan balik secara rutin, diketahui dapat meningkatkan motivasi mahasiswa serta performa akademiknya[2]. Di sisi lain, kepuasan terhadap jurusan yang dipilih dan modal psikologis yang kuat terbukti memediasi serta memperkuat motivasi berprestasi di kalangan mahasiswa[3]. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang dapat menumbuhkan suasana belajar positif, sehingga motivasi belajar mahasiswa tetap terjaga.
Namun, permasalahan yang masih sering ditemukan adalah belum semua mahasiswa memiliki kondisi psikologis yang stabil atau motivasi belajar yang kuat selama menempuh perkuliahan akuntansi. Banyak mahasiswa merasa terbebani oleh materi yang sulit, pendekatan pembelajaran yang cenderung tradisional dan kurang inovatif, serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Studi menunjukkan, persepsi negatif terhadap akuntansi sering diperburuk oleh minimnya inovasi metode pengajaran serta kurangnya upaya untuk menjembatani kebutuhan psikologis dan akademis mahasiswa, yang akhirnya menurunkan semangat, dedikasi, dan hasil belajar mereka[4][5].
Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam pengaruh faktor psikologis dan motivasi belajar mahasiswa terhadap proses dan hasil pembelajaran akuntansi. Penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi tantangan psikologis dan motivasi yang dihadapi mahasiswa, serta bagaimana kedua aspek tersebut membentuk keterlibatan, prestasi, hingga kesiapan transfer pengetahuan di lingkungan profesional[5][1]. Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan dapat dirancang strategi pembelajaran dan lingkungan akademik yang lebih inklusif, efektif, serta memperhatikan kebutuhan psikologis mahasiswa.
Diharapkan, hasil penelitian ini bisa memberikan rekomendasi bagi institusi pendidikan tinggi akuntansi untuk lebih memperhatikan kesejahteraan psikologis serta motivasi belajar mahasiswa. Pengajar diharapkan bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang mampu membangun rasa percaya diri, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan menciptakan suasana belajar yang memotivasi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori akuntansi secara mendalam tetapi juga siap secara mental, motivasional, dan profesional menghadapi dinamika dunia kerja ke depan[2][3][1][5][4].