Latar belakang Kesehatan mental pada generasi Z—generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan saat ini. Di tengah pesatnya perubahan sosial, transformasi digital, dan eksposur intens terhadap media sosial, Gen Z menghadapi tantangan unik yang berbeda secara signifikan dari generasi sebelumnya dalam konteks pendidikan. Tekanan akademik yang tinggi, persaingan prestasi, ketidakpastian masa depan, serta stigma sosial mengenai masalah kesehatan mental sering kali memicu munculnya gangguan kesehatan mental seperti stres berat, kecemasan, maupun depresi di antara pelajar dan mahasiswa Gen Z [1][2].
Permasalahan kesehatan mental pada Gen Z tidak hanya berdampak pada kesejahteraan psikologis individu, tetapi juga berpengaruh pada motivasi belajar, pencapaian akademik, serta relasi sosial di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi [1][2][3]. Studi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pendidikan dapat berperan sebagai faktor protektif terhadap masalah kesehatan mental, misalnya dengan menurunkan prevalensi simptom depresi dan kecemasan secara signifikan. Efek positif pendidikan terhadap kesehatan mental juga berkaitan dengan peningkatan perilaku hidup sehat, pengetahuan kesehatan yang lebih baik, serta empowerment pada kelompok-kelompok marginal seperti perempuan dan pelajar di wilayah rural [1][4]. Namun demikian, banyak anggota Gen Z yang belum mendapatkan akses pada intervensi kesehatan mental yang relevan dengan karakteristik generasinya, seperti kebutuhan akan komunikasi digital, pembelajaran yang kritis, dan lingkungan sosial yang lebih terbuka [5][6].
Keberadaan program intervensi kesehatan mental yang berbasis pendidikan masih terbatas, sering kali bersifat generik dan kurang responsif terhadap tantangan serta nilai-nilai yang dipegang Gen Z. Padahal, berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa intervensi yang dilaksanakan di sekolah secara komprehensif—melalui peningkatan mental health literacy, pengurangan stigma, dan penciptaan lingkungan belajar yang suportif—efektif dalam meningkatkan kesadaran, mengubah sikap, dan membangun daya lenting sosial-emosional bagi peserta didik [7][8][9][2]. Pendekatan whole-school dan kolaborasi lintas sektor antara sistem pendidikan, kesehatan jiwa, dan kesehatan masyarakat diperlukan untuk memperluas cakupan dan keberlanjutan upaya promosi kesehatan mental di lingkungan pendidikan [5][10][3].
Namun, studi-studi mutakhir juga menyoroti keterbatasan evaluasi jangka panjang, heterogenitas metode intervensi, dan terputusnya sistem pendampingan sehingga upaya peningkatan kesehatan mental pada pelajar belum optimal [2][10]. Dibutuhkan model intervensi yang inovatif, dirancang partisipatif dengan melibatkan siswa, guru, tenaga kesehatan, dan keluarga, serta berbasis hasil riset mutakhir untuk mendukung kesejahteraan psikologis generasi Z dan optimalisasi proses pendidikan [4][6][10]. Tujuan Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengembangkan program intervensi yang efektif dan kontekstual untuk meningkatkan kesehatan mental pada generasi Z di ranah pendidikan. Program yang dikembangkan diarahkan untuk:
- Meningkatkan literasi kesehatan mental, agar pelajar Gen Z mampu mengenali dan mengelola stres, kecemasan, serta isu mental lainnya secara mandiri maupun dengan dukungan lingkungan [7][8][2].
- Mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan mental di kalangan pelajar, guru, dan komunitas pendidikan [9][5].
- Meningkatkan daya lenting dan kemampuan adaptasi psikososial pelajar, agar mereka tetap termotivasi, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik di tengah tekanan pendidikan [4][6].
- Menyusun model intervensi komprehensif berbasis sekolah yang bersifat ramah generasi, mudah diadopsi, berkelanjutan, dan memungkinkan partisipasi aktif berbagai pemangku kepentingan (guru, tenaga kesehatan, orang tua, dan komunitas) [5][10][3].
Penelitian ini diharapkan menghasilkan model intervensi yang dapat menjadi rujukan aplikatif bagi institusi pendidikan di Indonesia dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan mental serta pengembangan potensi Gen Z secara menyeluruh [5][3].