BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini mengusung pendekatan kualitatif dengan desain penelitian pengembangan (research and development) yang berfokus pada eksplorasi mendalam tentang kondisi dan kebutuhan kesehatan mental Generasi Z dalam konteks pendidikan, serta perancangan program intervensi berbasis temuan empiris. Rationale penggunaan pendekatan kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman mendalam (thick description) mengenai pengalaman subjektif, persepsi, serta makna yang diberikan partisipan terhadap fenomena tekanan, adaptasi, dan tantangan kesehatan mental yang mereka alami; sekaligus memperoleh data rinci mengenai preferensi serta karakteristik intervensi yang kontekstual dan diterima oleh Generasi Z [1][2][3][4]. Desain penelitian juga bersifat iteratif—mengombinasikan tahap eksplorasi, desain solusi, pengembangan, dan evaluasi awal [1][3].
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah di lembaga pendidikan menengah atas (SMA/SMK) serta beberapa perguruan tinggi di kota [sebutkan nama kota]. Pemilihan lokasi didasarkan pada keberagaman latar belakang peserta serta adanya isu kesehatan mental yang teridentifikasi di institusi tersebut. Selain itu, pemilihan institusi juga mempertimbangkan kemauan bekerja sama dalam uji coba program intervensi.
Rencana waktu penelitian adalah 6 bulan, meliputi
- Bulan I–II: Studi pendahuluan, perizinan, serta pengumpulan data eksploratif
- Bulan III–IV: Penyusunan draft program intervensi berbasis temuan
- Bulan V: Uji kelayakan terbatas/implementasi awal program
- Bulan VI: Evaluasi formatif dan analisis data
3.3 Subjek dan Informan Penelitian
Partisipan utama penelitian adalah siswa/mahasiswa berusia 15–24 tahun (Generasi Z) yang sedang aktif menempuh pendidikan di SMA/SMK atau perguruan tinggi, dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria:
- Berada pada rentang usia 15–24 tahun
- Mengenali/merasakan stres, tekanan, atau tantangan mental terkait pendidikan
- Bersedia mengikuti wawancara mendalam/FGD
- Tidak mengalami gangguan akut yang menghalangi proses dialog (berdasarkan screening awal)
Informan kunci tambahan: guru/dosen, konselor pendidikan, serta profesional psikologi pendidikan yang memahami dinamika kesehatan mental peserta didik. Target partisipan: 15–20 siswa/mahasiswa dan 3–5 tenaga pendidik/ahli kesehatan mental.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
-
Wawancara Mendalam: Wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap siswa/mahasiswa untuk mengeksplorasi pengalaman pribadi, persepsi, coping, dan kebutuhan mereka terkait kesehatan mental dalam pendidikan. Wawancara juga diarahkan pada informan kunci untuk mengidentifikasi praktik, hambatan, dan potensi solusi dari perspektif pendidik/ahli [1][2][3][4].
-
Focus Group Discussion (FGD):
- FGD tahap pertama: Melibatkan siswa/mahasiswa untuk mengidentifikasi kebutuhan dan preferensi intervensi.
- FGD tahap kedua: Melibatkan tenaga pendidik/konselor/ahli untuk validasi dan pengembangan desain program intervensi. Diskusi diarahkan pada aspek relevansi, kelayakan, dan potensi penerapan [1][3].
-
Studi Dokumentasi: Analisis dokumen kebijakan institusi, hasil survei internal, modul edukasi, serta laporan kasus kesehatan mental, untuk memberikan konteks serta dasar pengembangan program.
Seluruh data direkam (audio/dokumen), ditranskripsi, dan disimpan secara anonim untuk menjaga kerahasiaan [3][5].
3.5 Teknik Analisis Data
Data dianalisis dengan pendekatan thematic analysis, mengikuti langkah:
- Transkripsi verbatim seluruh wawancara/FGD
- Koding terbuka untuk mengidentifikasi unit makna, kategori, dan tema
- Eksplorasi dan klasifikasi tema berdasarkan dinamika kesehatan mental, faktor pendidikan, serta kebutuhan intervensi
- Interpretasi tema dengan merujuk teori kesehatan mental remaja dan model intervensi psikososial [2][3][4]
- Sintesis temuan untuk rancangan intervensi berbasis konteks
Keabsahan data dijaga melalui:
- Triangulasi sumber: membandingkan data siswa, tenaga pendidik, dan ahli
- Triangulasi teknik: membandingkan hasil wawancara, FGD, dan data dokumenter
- Member checking: validasi interpretasi hasil ke sebagian partisipan
- Audit trail: pelacakan proses analisis secara sistematis [1][3].
3.6 Proses Pengembangan Program Intervensi
Pengembangan program intervensi mengikuti model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang relevan dalam pengembangan intervensi kesehatan mental berbasis temuan lokal [3].
- Analysis: Analisa kebutuhan peserta/pemangku kepentingan terhadap intervensi; identifikasi risiko, sumber daya, hambatan, dan konteks pendidikan yang spesifik [4].
- Design: Perancangan tujuan, isi, metode (mis. group support, modul keterampilan coping, mindfulness,, pelatihan self-efficacy), serta media intervensi berbasis masukan peserta.
- Development: Penyusunan draft/modul program berdasarkan hasil design.
- Implementation: Uji coba terbatas (pilot) pada sejumlah kecil peserta untuk memperoleh masukan awal praktikabilitas dan relevansi program.
- Evaluation: Evaluasi formatif—mengumpulkan umpan balik terkait relevansi, kemudahan implementasi, serta efek awal (perubahan persepsi, pengalaman, motivasi peserta).
Ciri penting program yang dikembangkan: tailor-made, berbasis kebutuhan lokal, multidisipliner, dan adaptif terhadap dinamika serta preferensi Gen Z [4][6].
3.7 Etika Penelitian
Prinsip etika penelitian sosial ditegakkan secara ketat meliputi:
- Informed consent: Penjelasan lengkap tujuan, prosedur, kerahasiaan, serta hak partisipan terhadap seluruh proses [2][3].
- Kerahasiaan dan anonimitas: Seluruh identitas partisipan disandi, data disimpan secara aman.
- Non-maleficence: Menjamin proses penelitian tidak menimbulkan tekanan atau dampak negatif bagi partisipan. Jika ditemukan risiko, peneliti akan mengarahkan ke layanan profesional terkait [3][5].
- Hak akses hasil: Membuka akses pada hasil, temuan, dan rekomendasi intervensi kepada partisipan yang berminat.
- Persetujuan etik: Seluruh protokol penelitian diajukan ke Komite Etik Penelitian instansi terkait.
Penegasan Kualitas ilmiah dan Rigor
Setiap langkah desain, pengumpulan, analisis data, dan pengembangan intervensi dilakukan dengan mengacu pada standar kualitas riset kualitatif (kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas)—sebagaimana direkomendasikan dalam penelitian kesehatan mental [1][2][3][4]. Pendekatan ini bertujuan bukan hanya menghasilkan intervensi berbasis pemahaman mendalam, tetapi juga memastikan temuan mampu berkontribusi pada pengembangan praktik dan kebijakan kesehatan mental Gen Z dalam pendidikan [3][5].
Bagian ini dapat diadaptasi dengan lebih spesifik menurut setting, karakter target institusi, dan regulasi lokal. Setiap langkah telah dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip terbaik penelitian kualitatif di bidang kesehatan mental dan pengembangan intervensi, sebagaimana didukung oleh hasil-hasil dan rekomendasi literatur ilmiah terkini [1][2][3][4][5][6].