BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Kesehatan Mental pada Gen Z dalam Konteks Pendidikan
Kesehatan mental di kalangan Generasi Z (Gen Z) dalam lingkungan pendidikan merupakan fenomena multidimensional yang mencakup dinamika psikologis, sosial, dan struktural. Gen Z dikenal memiliki karakteristik unik seperti keterpaparan intens pada teknologi digital, mobilitas sosial tinggi, serta ekspektasi terhadap kecepatan dan fleksibilitas dalam beradaptasi terhadap perubahan, termasuk di bidang pendidikan. Tekanan dalam ranah akademik, baik dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial, menjadi salah satu determinan utama munculnya masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi. Dalam konteks ini, model keseimbangan kesehatan mental/prestasi akademik yang diusulkan oleh Stentiford et al. (2021) menyoroti bagaimana tekanan yang tidak seimbang dapat menyebabkan gangguan psikologis. Model “mental health/achievement see-saw” ini sangat relevan digunakan untuk memahami kompleksitas relasi antara tuntutan akademik, tekanan sosial, dan kondisi psikologis pada Gen Z. Tekanan berlebihan, misalnya ekspektasi gender, kompetisi sekolah, serta kecemasan masa depan, dapat memperparah kerentanan kesehatan mental pada kelompok usia ini [1].
2.1.2 Intervensi Kesehatan Mental: Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif dalam bidang kesehatan mental memiliki kekuatan dalam menangkap pengalaman subjektif serta makna yang dibangun oleh individu pada konteks kehidupannya — utamanya, pada kelompok muda seperti Gen Z. Metode kualitatif, seperti wawancara mendalam dan focus group discussion, memfasilitasi pemahaman atas persepsi, motif, dan pengalaman lived-experience yang memengaruhi kondisi mental seseorang [2][3]. Studi kualitatif tidak hanya menghasilkan pengetahuan berbasis data deskriptif “thick description,” tetapi juga memungkinkan pengeksplorasian proses-proses pemulihan, pengambilan keputusan, dan makna yang dibentuk individu maupun komunitas terkait kesehatan mental [4][5]. Dalam konteks pendidikan, penelitian kualitatif membantu mengidentifikasi faktor-faktor subjektif, kendala, dan strategi coping yang relevan untuk pengembangan program intervensi.
2.1.3 Teori Sosiokultural dan Model Ekologis dalam Kesehatan Mental Pendidikan
Permasalahan kesehatan mental di lingkungan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh faktor sosiokultural dan ekologi. Model ekologi Bronfenbrenner yang digunakan oleh Smith et al. (2022) menekankan bahwa terdapat pengaruh berlapis mulai dari makrosistem (budaya dan kebijakan), mesosistem (interaksi antarindividu di sekolah dan keluarga), hingga mikrosistem (pengalaman personal) yang semuanya terintegrasi dalam membentuk kondisi kesehatan mental peserta didik [6]. Selain itu, diskriminasi, stigma, dan hambatan sosial-ekonomi juga merupakan determinan kuat yang menghambat akses Gen Z terhadap dukungan psikososial di ranah pendidikan [7][8][9]. Dengan demikian, pengembangan program intervensi memerlukan pendekatan holistik yang mencakup berbagai dimensi tersebut.
2.1.4 Prinsip Pengembangan Program Intervensi
Dalam mengembangkan program intervensi kesehatan mental, penting untuk mengadopsi prinsip biopsikososial yang menekankan kolaborasi antara aspek biologis, psikologis, dan sosial lingkungan [1][10]. Intervensi yang efektif bersifat partisipatoris, melihat peserta didik bukan sekadar penerima manfaat, namun juga aktor aktif dalam perancangan dan pelaksanaan program [8][11]. Program perlu kontekstual, adaptif terhadap kebutuhan, serta inklusif terhadap keberagaman status individu di sekolah.
2.2 Hasil Penelitian yang Relevan
Berbagai studi telah mengonfirmasi tantangan dan peluang dalam peningkatan kesehatan mental peserta didik dengan menerapkan pendekatan kualitatif dan program intervensi yang adaptif.
Stentiford et al. (2021) melalui systematic review menemukan bahwa tekanan akademik, budaya sekolah yang kompetitif, ekspektasi keluarga yang tinggi, serta kecemasan akan masa depan menjadi sumber utama stres dan gangguan mental pada remaja, khususnya perempuan. Mereka menancapkan pentingnya model “mental health/achievement see-saw” sebagai pijakan pengembangan intervensi biopsikososial yang memberdayakan individu dan menantang ketimpangan struktural [1].
Secara metodologis, Oyebode (2012) dan Palinkas (2014) menekankan urgensi penggunaan metode kualitatif dalam penelitian kesehatan mental, mengingat pendekatan ini memberikan kedalaman pemahaman terhadap pengalaman subyektif dan proses-proses pengambilan keputusan yang berlangsung selama intervensi atau pada kehidupan sehari-hari individu dengan masalah kesehatan mental [2][3]. Davidson et al. (2008) juga menegaskan bahwa pendekatan kualitatif sangat bernilai dalam memberikan gambaran nyata kepada pembuat kebijakan mengenai kebutuhan, hambatan, dan proses pemulihan peserta didik, sehingga intervensi yang dikembangkan benar-benar berbasis pengalaman riil dan bersifat empowering [4].
Penelitian di Irlandia oleh Villani & Barry (2021) menyoroti bahwa determinan sosial, seperti status ekonomi, diskriminasi, kepercayaan sosial, dan identitas budaya, sangat mempengaruhi kesehatan mental kelompok minoritas. Intervensi harus menerapkan pendekatan multidimensional dan menargetkan penguatan identitas positif serta keterampilan sosial-emosional sebagai bentuk pemberdayaan [7]. Temuan serupa tercermin dalam studi Bringaker & Dahl (2024) yang menemukan bahwa kompetensi budaya, kepekaan bahasa, dan pembangunan kepercayaan sangat penting dalam promosi kesehatan mental pada remaja dari kelompok migran di sekolah [8]. Penting pula membangun kolaborasi dengan orang tua dan aktor lintas sektor untuk keberlanjutan dan efektivitas program.
Dalam penelitian di sekolah menengah Yunani, Sakellari et al. (2014) menunjukkan bahwa intervensi edukatif di sekolah dapat efektif dalam mengubah persepsi dan sikap remaja terhadap isu kesehatan mental. Melalui pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa setelah menerima intervensi, siswa menunjukkan sudut pandang yang lebih terbuka, empatik, dan mampu mengindentifikasi dengan lebih baik bentuk-bentuk masalah kesehatan mental serta kebutuhan dukungan untuk penderita [12].
Di tingkat perguruan tinggi, Ennals et al. (2015) menganalisis pengalaman mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental, dan menemukan bahwa proses mengenal diri, mengelola penyakit, dan menavigasi ruang sosial adalah kunci adaptasi dan resiliensi selama proses belajar. Hal ini menguatkan perlunya intervensi yang bukan hanya berfokus pada penyelesaian akademis, namun juga pemberdayaan sosial-emosional [5]. Sementara itu, studi Smith et al. (2022) menegaskan bahwa budaya akademik yang kompetitif serta dominasi stigma di level struktural maupun interpersonal dapat memperparah hambatan bantuan dan kesulitan kesehatan mental [6].
Massey et al. (2005) memperlihatkan bahwa pelaksanaan layanan kesehatan mental di sekolah menghadapi tantangan besar terkait implementasi, dukungan kelembagaan, dan keberlanjutan program. Faktor seperti keterbatasan sumber daya, koordinasi lintas sektor yang lemah, serta resistensi budaya perlu diatasi melalui strategi kolaboratif dan pelibatan aktor kunci sejak awal [10].
Dari bukti di atas, tampak bahwa pengembangan program intervensi kesehatan mental pada Gen Z di lingkungan pendidikan perlu memadukan pemahaman subjektif partisipan, responsivitas terhadap konteks sosial-budaya, serta strategi yang inklusif dan kolaboratif. Studi-strudi tersebut menguatkan fondasi teori dan metodologi bagi penelitian kualitatif yang mengembangkan intervensi berbasis kebutuhan riil dan lived-experience Gen Z, menjadikan pendekatan ini paling sesuai untuk merancang program yang efektif, berkelanjutan, dan berdampak pada kesejahteraan psikososial pelajar dan mahasiswa masa kini.
Penjelasan Pengembangan
Penjelasan dalam Bahasa Indonesia:Jawaban di atas memperluas konten asli dengan menambahkan telaah mendalam terhadap berbagai teori kunci (misal: model keseimbangan mental health/achievement, teori sosiokultural, dan model ekologi Bronfenbrenner), serta pemaparan integratif atas hasil-hasil penelitian relevan yang mendasari pengembangan program intervensi kesehatan mental berbasis kualitatif bagi Gen Z. Setiap kutipan telah ditautkan langsung pada kalimat atau bagian yang didukung—sesuai dengan permintaan gaya Nature. Sumber-sumber penelitian digunakan secara spesifik untuk menyoroti baik temuan empiris maupun praktik-praktik efektif dalam desain dan implementasi intervensi. Selain itu, dikembangkan analisis kritis terhadap faktor-faktor sosial, budaya, dan institusional yang menjadi tantangan maupun peluang dalam upaya promosi kesehatan mental, sehingga bab ini tampil lebih komprehensif, analitis, dan berlandaskan pada evidence base akademik mutakhir dibanding draf asli.